“Mengajar dimana sekarang?” atau “Apa kegiatanmu sekarang?” pertanyaan basi dan garing yang sering saya temui di wall facebook sejak saya banyak bertemu teman-teman kuliah atau sekolah dulu di dunia maya. “Mengajar anak sendiri, biasaaa…ibu rumah tangga” jawab saya. “Ooh…sayang dong kuliah susah-susah” respon yang sangat menjengkelkan buat saya. “Nggak juga…saya kan Ibu Rumah Tangga Profesional” jawab saya nggak mau kalah.
Ibu Rumah Tangga Profesional. Saya bangga dengan profesi saya, dan itu yang sering saya tulis di setiap kolom formulir yang menuliskan profesi. Saya bangga menjadi ibu rumah tangga karena setiap hari saya belajar, saya mendapat tantangan baru dan anak-anak adalah inspirasi saya.Ya, menjadi ibu mengubah hidup saya, mengubah prioritas saya dan bahkan membalikkan cita-cita saya. Bukan ke arah negatif tapi justru ke arah yang positif. Anak-anak saya membuat saya memilih jalan hidup berbeda dengan cita-cita saya tetapi kebahagiaan karena memilih jalan ini jauh lebih besar. Setelah menikah dan punya anak, saya mempunyai motto baru “semuanya gak penting, yang penting itu keluarga”. Setiap kali sakit, yang saya pikirkan bukanlah penyakit saya. Tapi justru gimana anak-anak kalau saya sakit. Siapa yang urus mereka? siapa yang urus ayah mereka?. Setiap kali belanja, yang saya pikirkan hanyalah kepentingan anak-anak dulu, bukan apa yang akan saya beli untuk saya.Setiap kali berjalan, yang saya kuatirkan hanyalah anak-anak, apakah mereka tidak rewel ataupun berbahaya bila ditinggal. Bahkan rasanya bernafas saja hanya anak-anak yang ada dalam pikiran ini, tak jarang karena anak-anak jadi sering lupa pada diri sendiri.Terkadang karena anak-anak dan suamilah, seorang ibu mengambil keputusan besar. Demi anak, diet pun digagalkan. Daripada sakit menahan lapar, lemas tak bisa mengurus mereka akhirnya si ibu berpikir, “Sudahlah, gendut gendut deh… yang penting badanku sehat dan bisa mengurus keluarga”. Yang tadinya gak suka minum obat, yang tadinya gak suka minum susu apalagi susu untuk ibu hamil, yang tadinya gak bisa masak, yang tadinya anti nongkrong di sekolah, yang tadinya paling gak suka baca buku, yang tadinya gak pernah nyuci, yang tadinya gak bisa bikin kue, yang tadinya gak bisa menjahit… akhirnya mau belajar melakukannya semua karena keluarga
Anak-anak tak mau saya bekerja di luar rumah. Mereka ingin saya di rumah, ada buat mereka disaat mereka mengerjakan PR, makan, main bahkan nonton TV sekalipun. Mereka bisa membahas apa saja tontonan mereka bersama saya dan berkat mereka dan keunikannya, saya memiliki banyak cara mengaktualisasi diri. Dari menemukan hobi-hobi baru yang menyenangkan seperti memasak kue, menggambar (padahal sebelumnya saya paling susah menggambar, hanya karena ingin bisa mengajari si kecil menggambar), menyusun soal-soal pelajaran untuk belajar anak-anak saya. Bahkan menulis, yang dulunya hobby dan tergusur oleh hobby ngurus anak dan suami, mulai muncul lagi gara-gara si Sulung mendapat tugas mengarang dari sekolahnya.
Meski ‘panggung’ saya sekarang adalah suami dan anak-anak, tapi bukan berarti saya bagai katak di bawah tempurung. Saya jadi punya banyak teman dari mulai guru-guru mereka, teman sesama wali murid sampai dokter yang mengurusi anak-anak. Banyak teman, jadi banyak ilmu kan?. Saya juga disayang suami karena memilih mengurus anak-anak sendiri daripada bekerja (ciiieeehhh!!) dan rezeki keuangan yang tak pernah putus karena teman-teman anak saya sering belajar di rumah dan akhirnya orang tua mereka sekalian meminta saya memberikan les privat untuk anaknya. Rezeki keempat, kelima dan entah berapa banyak rezeki telah mengisi hidup saya. Dan rezeki terbesar adalah kebahagiaan memiliki anak-anak saya. Merekalah jantung hati saya, merekalah hidup saya, mewarnainya tingkahnya yang kadang membuat saya gemas, kadang marah, kadang jengkel….Dan selalu disetiap doa saya, saya mohon Allah SWT menjadikan mereka orang-orang yang bermanfaat kelak…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar