Minggu, 22 Juli 2012

 
Doa Seorang Ibu

Tidak terasa puteri sulungku, Rayhan Safa Nabila, berusia 12 tahun dan duduk di kelas 6 SD. 6 tahun itu pula 3 Sekolah Dasar di 3 kota dilaluinya. Kelas 6 SD ini Safa bersekolah di sebuah SDSN yang lumayan terkenal di daerah Jakarta Barat.
Sebagai seorang ibu, tentunya aku ingin memberikan yang terbaik untuk puteriku. Seperti biasanya aku selalu berusaha mencari informasi baik melalui internet, media massa atau apapun untuk mengasahku dalam menerpa anak-anakku. Aku ingin mereka selalu merasa mendapat ilmu baru. Bagiku, anak-anakku adalah selembar kertas putih yang harus aku tulis dan hias sebaik dan sebagus mungkin sebagai bentuk pertanggungjawabanku padaNya.
Saat Safa mulai menginjak kelas 6, hampir setiap hari aku browsing soal-soal untuk UN. Nggak sia-sia aku merengek pada suami untuk berlangganan internet di rumah. Selama ini kami memakai modem mobile yang sinyalnya ‘byar-pet’. Dengan sambungan internet di rumah, sekarang areal rumahku sdh WiFi.
Menginjak bulan Januari 2012, aku mulai membatasi jumlah murid les di rumah. Selama ini aku memiliki usaha sampingan sebagai guru les privat untuk mata pelajaran IPA dan Matematika.  Sebenarnya, suami melarangku bekerja dengan alasan agar aku lebih berkonsentrasi dalam mendidikan Safa dan Dita, buah cinta kami. Tapi setelah anak-anak agak besar dan tiap sore mereka pergi mengaji, aku mulai mengisi soreku dengan menerima murid les. Tapi, ternyata diluar dugaanku, setelah 6 bulan berjalan banyak orang tua yang ingin memasukkan anaknya di tempat lesku. Terpaksa dengan berat hati aku tolak, karena memang tujuanku bukan materi. Aku hanya ingin menularkan ilmu dan mengisi waktu luang.
Tgl 7,8,9 Mei 2012. Saatnya Safa mengikuti UN. 3 malam itu, mataku sulit terpejam. Otakku terasa tegang. Tapi aku berusaha menutupinya di depan ‘permata hatiku’, aku tidak ingin Safa ikutan tegang. Pagi hari tepat jam 8 pagi, aku sudah masuk kamar untuk berdoa. Mulai dari Sholat Dhuha hingga 8 rakaat, Sholat Hajat, Sholat Tasbih aku lakukan sambil terus memohon padaNya agar Safa diberi kemudahan. Jam 10.00 WIB, aku mengakhiri doaku tepat setelah Safa menelponku untuk menjemputnya dari sekolah. 3 hari terus itu yang aku lakukan. 3 hari itu aktifitas rumah tangga lainnya praktis aku tinggal. Beli makanan siap saji hingga ke laundry menjadi pengganti kegiatan rumah tangga. Sengaja murid les aku liburkan saat Safa UN. Tugasku hanya berdoa, jemput Safa dari sekolah setelah itu dilanjutkan menemaninya belajar.
Tanggal 16 Juni, saatnya pengumuman nilai UN. Semalam aku tidak bisa tidur. Deg-degan menunggu nilai UN Safa keluar. Pagi itu, aku stand by depan laptop, memantau nilai UN yg di umumkan online tepat jam 08.00. Sambil terus menggumamkan istighfar setelah sholat dhuha, mataku terus memantau internet. Tepat jam 08.00 WIB, nilai UN keluar di internet. Dan…..Alhamdulillah, Safa mencapai nilai 28,75 atau 9,588. Dengan perincian, nilai Bahasa Indonesia 9,00. Nilai Matematika 9,75 dan nilai IPA 10.
Tak terasa airmataku mengalir, aku bangga pada anakku. Aku merasa semua ini kewajiban yang harus aku jalankan sebagai bentuk pertanggungjawabanku padaNya. Terimakasih ya Allah…..Kau telah membantuku. Jauh dilubuk hatiku aku berdoa…”ya Allah…berilah aku selalu kekuatan dan kesehatan agar  aku dapat membesarkan titipanMU sesuai dengan ajaranMu dan rasulMu” amiin….

Tidak ada komentar:

Posting Komentar