Kamis, 16 Februari 2012

PILIH SUAMI ATAU ANAK??

“Bu…besok saya titip anak saya lagi ya, Cuma 2 hari kok. Biasaaa…nengokin ayahnya” Kata tetanggaku saat arisan RT kemarin. Kebetulan kami duduk bersebelahan.  Volume suaranya yang sedikit ngebass membuat beberapa ibu yang duduk di sebelah kami ikutan mendengarkan.  Menjadi penitipan anak buat tetanggaku yang satu ini, adalah hal yang biasa buatku. Maklum sebagai tetangga yang tepat bersebelahan, tak elok rasanya aku menolak permintaan tolongnya. Apalagi sejak setahun lalu, suaminya dipindahtugaskan ke luar pulau. Tiap bulan dia dan suaminya gantian berkunjung. Seperti saat ini, dia akan mengunjungi suami bersama anaknya yang bungsu sedangkan 2 anak lainnya, dititipkan padaku.
“Idih….ibu kok mau aja sih dititipin anaknya, sekali dua kali mah kagak apa-apa, lha kalo sering gini?” kata tetanggaku yang duduk di sebelah kiriku sambil berbisik. Aku hanya tersenyum, “Nggak apa-apa kok Bu”. 

Rupanya bisik-bisik tetangga tetap berlanjut. Mulai dari cap ‘ibu nggak sayang anak’, ‘ibu yang mentingin suami daripada anak’, ‘pilih suami atau anak’ dan sebagainya. Padahal mana mungkin seorang wanita bisa memilih antara suami dan anak? Karena suami dan anak adalah jantung hati seorang wanita. Apalagi seperti tetanggaku ini, mau pilih ngikut suami tapi harus mengorbankan pendidikan untuk anaknya yang menderita difabel. Tahu sendiri kan? Di Indonesia ini, pendidikan untuk anak difabel hanya tersedia di kota besar. Mau pilih anak, berarti bersedia menjalani hidup rumah tangga berjauhan dengan suami. Istri manapun rasanya akan berat berada jauh dari suami, secanggih apapun teknologi komunikasi yang tersedia.
Dan aku??? Aku hanya tersenyum dan larut dalam alam pikirku sendiri. Aku hanya berusaha menempatkan diriku seandainya aku diposisi tetanggaku itu. Merawat 3 anak  yang salah satu diantaranya menderita difabel sedangkan suami berjihad untuk keluarga di tempat jauh. Ada banyak alasan seorang istri yang terpaksa tinggal berjauhan dengan suaminya (long distance relationship). Mulai dari alasan mendahulukan pendidikan anak karena di tempat yang baru belum tentu kualitas pendidikan (baca: sekolah) lebih baik dari tempat lama, alasan menemani orang tua bagi yang tinggal untuk menemani orangtua, alasan istri juga berkarier sehingga sayang untuk meninggalkan karier demi mengikuti suami mungkin karena alasan financial dan sebagainya.
Terlepas dari itu semua, bagiku ..hidup itu adalah pilihan dengan berbagai konsekuensi di dalamnya. Komunikasi dan komitmen adalah hal mendasar dalam sebuah rumah tangga. Termasuk juga aku yang meninggalkan pekerjaanku saat menikah dengan suamiku dan ikut kemanapun Negara menugaskannya. Karena itulah komitmen kami saat memulai babak baru dalam bahtera rumah tangga.  Dan apabila aku ikhlas menjadi penitipan anak bagi tetanggaku itu, semata karena aku bisa jadi akan melakukan hal yang sama apabila aku berada di posisinya. Siapapun tentu ingin hidup serumah dalam mahligai rumah tangga, namun apabila keadaan memaksa kita memilih……kitapun dengan berat akan memilih dengan tanpa mengeluh pada konsekuensinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar