Senin, 20 Februari 2012

Ibu Rumah Tangga Profesional

“Mengajar dimana sekarang?” atau “Apa kegiatanmu sekarang?” pertanyaan basi dan garing yang sering saya temui di wall facebook sejak saya banyak bertemu teman-teman kuliah atau sekolah dulu di dunia maya. “Mengajar anak sendiri, biasaaa…ibu rumah tangga” jawab saya. “Ooh…sayang dong kuliah susah-susah” respon yang sangat  menjengkelkan buat saya. “Nggak juga…saya kan Ibu Rumah Tangga Profesional” jawab saya nggak mau kalah. 

Ibu Rumah Tangga Profesional. Saya bangga dengan profesi saya, dan itu yang sering saya tulis di setiap kolom formulir yang menuliskan profesi. Saya bangga menjadi ibu rumah tangga karena setiap hari saya belajar, saya mendapat tantangan baru dan anak-anak adalah inspirasi saya.Ya, menjadi ibu mengubah hidup saya, mengubah prioritas saya dan bahkan membalikkan cita-cita saya. Bukan ke arah negatif tapi justru ke arah yang positif. Anak-anak saya membuat saya memilih jalan hidup berbeda dengan cita-cita saya tetapi kebahagiaan karena memilih jalan ini jauh lebih besar. Setelah menikah dan punya anak, saya mempunyai motto baru  “semuanya gak penting, yang penting itu keluarga”. Setiap kali sakit, yang saya pikirkan bukanlah penyakit saya. Tapi justru gimana anak-anak kalau saya sakit. Siapa yang urus mereka? siapa yang urus ayah mereka?. Setiap kali belanja, yang saya pikirkan hanyalah kepentingan anak-anak dulu, bukan apa yang akan saya beli untuk saya.Setiap kali berjalan, yang saya kuatirkan hanyalah anak-anak, apakah mereka tidak rewel ataupun berbahaya bila ditinggal. Bahkan rasanya bernafas saja hanya anak-anak yang ada dalam pikiran ini, tak jarang karena anak-anak jadi sering lupa pada diri sendiri.Terkadang karena anak-anak dan suamilah, seorang ibu mengambil keputusan besar. Demi anak, diet pun digagalkan. Daripada sakit menahan lapar, lemas tak bisa mengurus mereka akhirnya si ibu berpikir, “Sudahlah, gendut gendut deh… yang penting badanku sehat dan bisa mengurus keluarga”. Yang tadinya gak suka minum obat, yang tadinya gak suka minum susu apalagi susu untuk ibu hamil, yang tadinya gak bisa masak, yang tadinya anti nongkrong di sekolah, yang tadinya paling gak suka baca buku, yang tadinya gak pernah nyuci, yang tadinya gak bisa bikin kue, yang tadinya gak bisa menjahit… akhirnya mau belajar melakukannya semua karena keluarga

Kamis, 16 Februari 2012

PILIH SUAMI ATAU ANAK??

“Bu…besok saya titip anak saya lagi ya, Cuma 2 hari kok. Biasaaa…nengokin ayahnya” Kata tetanggaku saat arisan RT kemarin. Kebetulan kami duduk bersebelahan.  Volume suaranya yang sedikit ngebass membuat beberapa ibu yang duduk di sebelah kami ikutan mendengarkan.  Menjadi penitipan anak buat tetanggaku yang satu ini, adalah hal yang biasa buatku. Maklum sebagai tetangga yang tepat bersebelahan, tak elok rasanya aku menolak permintaan tolongnya. Apalagi sejak setahun lalu, suaminya dipindahtugaskan ke luar pulau. Tiap bulan dia dan suaminya gantian berkunjung. Seperti saat ini, dia akan mengunjungi suami bersama anaknya yang bungsu sedangkan 2 anak lainnya, dititipkan padaku.
“Idih….ibu kok mau aja sih dititipin anaknya, sekali dua kali mah kagak apa-apa, lha kalo sering gini?” kata tetanggaku yang duduk di sebelah kiriku sambil berbisik. Aku hanya tersenyum, “Nggak apa-apa kok Bu”. 

Senin, 13 Februari 2012

Valentine's Day

Teng!!! Jam 12.00 WIB, saatnya aku turn off laptop. Menghentikan kegiatanku menulis dan beralih ke tugas utamaku. Menjemput buah hatiku dari sekolahnya. Waktu 30 menit aku rasa cukup bersiap dan memacu motorku ke sekolah Dita, anakku yang bungsu yang baru duduk di kelas 3 SD. Jarak dari rumah ke sekolah Dita, tidak terlalu jauh, hanya sekitar 3 Km. Macetnya jalanan di Jakarta, memaksaku beralih ke motor dan memilih menantang teriknya matahari siang ini.
    Tepat jam 12.30 WIB bel sekolah berbunyi. Aku yang sudah stand by di halaman parkir sekolah melihat Dita berlarian keluar kelas. Seperti biasa senyumnya selalu mengembang setelah melihatku. Tak ada kebahagiaan yang lebih indah bagiku, selain melihat si bungsuku ini tersenyum sambil berlarian ke arahku  untuk mencium tanganku.