Hati seorang ibu terdiri dari serpihan-serpihan cinta…. quote yang terasa “dalam”……..Kalimat yang akhirnya bisa kutemukan dan rasakan dalam 12 tahun perjalananku bersama titipan Ilahi. Setiap hari aku belajar, belajar mendengarkan anakku, belajar memahami anakku, belajar untuk masuk dalam dunia pikiran anakku. Disinilah kutemukan bahwa cinta seorang ibu tak akan pernah pudar, hamparan sajadah tak akan pernah mengering oleh airmata seorang ibu di sujud malamnya.
Menjadi seorang ibu, membuat hidupku berwarna. Kuakui, saat lelah menerpa, emosi yang aku hidangkan pada anakku. Walaupun setelah itu, kata ‘maaf” meluncur dari mulutku untuknya. Aku merasa semakin hari rasa cinta dan sayang pada kedua buah hatiku semakin besar.
Saat mereka dalam kandungan, aku belajar menjadi seorang “dokter kandungan”. Belajar tentang perkembangan janin, tentang stimulus yang harus diberikan pada janin. Ketika anakku lahir, aku pun berubah. Aku belajar menjadi “ahli anak-anak”. Aku pelajari detail masa perkembangan mereka. Mulai dari kesehatannya, perkembangannya hingga menstimulus otak kanan dan kirinya.
Kini, saat si sulung beranjak remaja, aku mulai belajar menjadi “ahli remaja”. Aku belajar memasuki dunianya. Kadang aku tak percaya, rasanya baru kemarin aku menimangnya, meninabobokannya tapi kini…dia telah tumbuh menjadi gadis kecilku.
Rupanya, belajarku belum tuntas. Aku harus belajar bab awal lagi karena si bungsu berbeda dengan kakaknya. Sebagai anak yang lahir hampir mirip dengan yang aku “pesan” pada Allah saat aku hamil. Aku mulai mereview pola didikanku. Karena tiap anak dilahirkan berbeda.
Aku hanya berdoa, semoga Allah memberiku kesehatan agar aku mampu menjalankan amanahNya hingga akhir tugasku menghantarkan mereka menjadi manusia yang bermanfaat. Dan aku berdoa semoga Allah menghindarkanku dari rasa kelelahan seorang ibu, yang sebenarnya manusiawi. Namun hari ini, aku belajar bahwa menjadi ibu yang ingin sempurna justru menjadikanku lelah. Dan aku berusaha tidak egois saat kelelahan menghampiriku.. Aku berusaha menyikapi agar kegagalan dan kelelahan itu tidak mempengaruhi tanggung jawabku yang tak kenal istirahat itu. Dan yang terpenting aku menikmati peranku. Jika aku menikmatinya, anak-anakku akan bahagia. Aku bangga, menjadi seorang ibu…
I like it...
BalasHapus