Sabtu, 28 Januari 2012

Aktualisasi Bagiku...............

    “Assalamualaikum,Ma” pamit anak-anak dan suamiku. “Wa’alaikumsalaam, hati-hati ya..jangan lupa baca doa” jawabku sambil menutup pintu pagar. Tepat jam 5.45 WIB para belahan hatiku berangkat menunaikan aktifitas rutin mereka. Sekarang giliranku, menunaikan tugas domestik rumah tangga. Pagi ini aku buru-buru menyelesaikan tugasku, karena jam 09.00 aku akan memulai lembar baru dalam hidupku. Hari ini hari pertama aku mengajar di sebuah SMU swasta. Setelah 15 tahun kucurahkan waktu untuk anak-anakku, sekarang mereka sudah mulai besar, sudah bisa mengurus dirinya sendiri. Si sulung, Azka, sudah berusia 14 tahun dan adiknya, Farah, berusia 11 tahun. Kini waktunya buatku menata lagi idealismeku. Setelah 3 hari yang lalu terjadi proses voting keluarga dan mereka bisa memahamiku.

    “Pokoknya, mama pengen kerja” kataku dengan nada memaksa. Suami dan kedua anakku hanya bengong melihat kengototanku. “Baiklah, kalo itu keinginan mama. Tapi kita voting dulu” jawab suamiku yang akhirnya menyerah dengan keinginanku.
“ Kalo aku, terserah mama aja deh yang penting mama suka” kata Azka, putri sulungku, mengawali acara voting keluarga kami.
 “
Kalo papa sih, terserah mama, asal mama nggak meninggalkan tanggung jawab di rumah” kata suamiku dengan bijaksana walaupun terdengar nada berat. Sekarang tinggal menunggu giliran mendengarkan jawaban  Farah, putri bungsuku. Selama ini dialah yang selalu menyeleksi murid les yang boleh aku terima. “Ya udah….terserah mama” katanya dengan lirih. “Terimakasih semua” kataku kegirangan. Sebenarnya sudah menjadi komitmen awal kami menikah, bahwa aku  dirumah mengurus anak-anak. Namun seiring berjalannya waktu, hatiku sering berontak. Aku ingin mengaktualisasikan diri. Sebenarnya, dari segi materi  Alhamdulillah, Allah berikan keberkahan buat kami. Allah berikan lelaki yang sangat bertanggungjawab sebagai pemimpin rumah tanggaku. Menerima les privat di rumah menjadi langkah awalku “mengaktualisasikan diri”.Namun itu tak cukup buatku, aku ingin yang lebih ‘berwarna’.“Menjadi ibu yang baik, itulah aktulisasi yang sesungguhnya” kalimat itu yang sering diucapkan suamiku jika aku memulai perdebatan antara bekerja atau dirumah.

    Hari pertama bekerja. Aku harus naik angkutan umum menuju tempat kerjaku. Begitu keluar rumah, aku disambut teriknya matahari. Angkutan umum yang penuh sesak dan kemacetan Jakarta yang luar biasa, belum lagi bau asap rokok yang menyesakkan tak menyurutkan langkahku. Biasanya, siang-siang begini sambil menunggu anak-anak pulang sekolah, aku ngadem  di kamarku yang ber-AC sambil membaca buku-buku kesukaanku atau membuat soal-soal latihan tiap mata pelajaran untuk anak-anakku.Soal-soal latihan itu kuinventarisir rapi di laptopku agar  anak-anak lebih mudah belajar. Suamiku telah menyediakan segalanya buatku agar aku merasa nyaman dirumah.

    Hari kedua bekerja. Naik motor adalah pilihan tepat untuk menembus kemacetan Jakarta. Namun seperti kemarin, hari ini suami dan anak-anakku tidak lagi membawa bekal makan siang karena aku sudah tidak lagi sempat memasak pagi-pagi untuk bekal makan siang. Aku bawakan anak-anak uang saku lebih untuk beli makan siang di kantin sekolah. Demikian halnya dengan suamiku. Untungnya, selama ini suamiku nggak pernah rewel untuk urusan makannya.

    Hari ketiga bekerja. Hujan deras yang mengguyur Jakarta, memaksaku menepikan motor untuk berteduh di depan sebuah ruko bersama beberapa orang yang senasib denganku. Menerobos jalanan dengan kondisi hujan dan angin kencang adalah pilihan konyol. Sambil memandang tetesan air hujan, hatiku mulai berbisik…..inikah aktualisasi yang aku cari?  Biasanya, sore-sore begini  setelah murid les pulang, aku mulai sibuk bikin kue kesukaan suami dan anak, atau sekedar  mencoba resep-resep baru sambil menyiapkan menu makan malam. Sayup-sayup terdengar kumandang adzan Maghrib, sedangkan hujan tak kunjung reda. Ya Allah……jam segini aku masih diluar rumah. Bagaimana dengan anak-anakku? Siapa yang membimbing mereka mengaji setelah sholat maghrib kalo aku masih belum tiba di rumah? Siapa yang akan menyiapkan makan malam mereka dengan penuh cinta? Siapa yang akan menemani mereka belajar? Rasa bersalah dan berdosa mulai menggelayuti hatiku. Hujan mulai reda…akupun mulai memacu motorku agar cepat sampai rumah. Akan kupeluk anakku, akan kuucapkan kata maaf  karena telah meletakkan mereka dibawah alasan aktualisasi diriku.

    Setibanya di rumah, kulihat rumahku sepi. Kemana suami dan anak-anakku? Aku naik ke lantai dua rumahku, menuju kamar Farah. Biasanya kami sering berkumpul di kamar Farah karena dari kamarnya kami bisa memandang indahnya bintang di malam hari dan segarnya udara di pagi hari. Rumah kami yang terletak di daerah penyangga Jakarta jauh dari hiruk pikuk Jakarta membuat hidup kami terasa tenang. Dugaanku benar, suami dan anak-anakku ada di sana. Tapi…..
    “Farah demam sejak tadi siang, gurunya menelpon ke kantorku. Sudah aku bawa ke dokter dan ini hasil periksa darahnya” kata suamiku sambil menyerahkan hasil laboraturium rumah sakit yang menerangkan bahwa Farah terkena Typhus. Ya Allah…..ini salahku, ini salahku karena abai menyiapkan makanannya. Aku memilih memberinya uang untuk beli makan siang di luar daripada memasak sendiri untuk bekal makan siangnya seperti yang selama ini aku lakukan.

    Kupeluk anakku. Tak ada yang bisa aku katakan selain kata maaf. Mendadak aku merasa asing dengan diriku. Aku menuju kamarku. Isak tangisku tak terbendung. Suamiku menyusul di belakangku. “Pa, mulai besok mama berhenti bekerja” ucapku mantap. Hidup adalah pilihan. Dan aku telah memilihnya. Aku sadar, Allah menegurku dengan caraNya. Disinilah istanaku, di lahan yang tak luas  tapi kutemukan surga didalamnya.  Disinilah aktualisasiku yang sebenarnya bukan diluar sana.**

Tidak ada komentar:

Posting Komentar