Saat itu di rumah, tinggallah kami berdua. Aku dan Dita, si bungsu berusia 8 tahun. Suamiku masih di kantor dan, Safa, anakku yang sulung, belum pulang sekolah. Tiba-tiba Dita datang padaku sambil menyerahkan selembar kertas. “ Ini catatan buat mama” katanya. Aku mengernyitkan dahi ketika membacanya. Tertulis begini,..
HUTANG MAMA PADA DITA:
1. Untuk mengerjakan PR hari ini Rp. 2000
2. Untuk belajar dan menyiapkan buku hari ini Rp. 3000
3. Untuk membantu mama menyiapkan piring Rp. 1000
4. Untuk membantu mama, ke toko depan rumah Rp. 1000
Total HUTANG MAMA Rp. 7000
Aku tersenyum. Si kecilku ini memang agak berbada dengan kakaknya yang cenderung kalem. Dita lebih ekspresif. Dia terlahir sebagai anak yang hampir sesuai dengan “pesananku” pada Allah. Tanpa banyak bicara, aku ambil pulpen, dan aku tulis di belakang kertasnya.
1. Untuk rasa sakit mama saat melahirkanmu GRATIS
2. Untuk kesedihan mama saat kamu sakit GRATIS
3. Untuk airmata mama saat melihatmu bersedih GRATIS
TOTAL: Semua kasih,sayang dan doa mama, GRATIS untukmu…anakku…..
Dita menatapku. Matanya yang bulat berkedip-kedip dengan lucunya, lalu ia memelukku, sambil berucap, “Aku juga sayang mama”…Hatiku terasa sejuk. Jauh di lubuk hatiku berkata,”Sesungguhnya, melihatmu sehat dan tertawa adalah kebahagiaan tak ternilai yang wajib mama syukuri, anakku…”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar