Selasa, 31 Januari 2012

Kasih Tak Bertepi

Seluruh kehidupan  seorang ibu itu adalah sebuah sejarah tentang kasih sayang.

“Mama pengen dikasih kado apa?” mungkin pertanyaan itu yang paling banyak ditanyakan ketika ulang tahun seorang ibu tiba.  Meski ada yang menjawabnya dengan benda, namun saya yakin sejatinya  hanya ada doa untuk anak-anaknya yang ada di setiap kata yang keluar dari bibir seorang ibu
.
Ketika saya mengucapkan Happy Mother’s Day buat semua teman-teman para Mama di Indonesia, seorang teman di sisi lain dunia ini bertanya, “no holiday?” Ups! saya pun jadi mikir, Kapan ya di negeri kita Hari Ibu dijadikan libur nasional. Paling nggak buat semua Mama di Indonesialah… meskipun saya tahu sangat tidak mungkin seorang Ibu dengan pembantu sekalipun bisa libur total walaupun cuma sehari.

Seorang Ibu tak perlu libur, ia hanya ingin kebaikan untuk keluarganya. Istilah Mama adalah “semuanya gak penting, yang penting itu keluarga”


Sabtu, 28 Januari 2012

Aktualisasi Bagiku...............

    “Assalamualaikum,Ma” pamit anak-anak dan suamiku. “Wa’alaikumsalaam, hati-hati ya..jangan lupa baca doa” jawabku sambil menutup pintu pagar. Tepat jam 5.45 WIB para belahan hatiku berangkat menunaikan aktifitas rutin mereka. Sekarang giliranku, menunaikan tugas domestik rumah tangga. Pagi ini aku buru-buru menyelesaikan tugasku, karena jam 09.00 aku akan memulai lembar baru dalam hidupku. Hari ini hari pertama aku mengajar di sebuah SMU swasta. Setelah 15 tahun kucurahkan waktu untuk anak-anakku, sekarang mereka sudah mulai besar, sudah bisa mengurus dirinya sendiri. Si sulung, Azka, sudah berusia 14 tahun dan adiknya, Farah, berusia 11 tahun. Kini waktunya buatku menata lagi idealismeku. Setelah 3 hari yang lalu terjadi proses voting keluarga dan mereka bisa memahamiku.

    “Pokoknya, mama pengen kerja” kataku dengan nada memaksa. Suami dan kedua anakku hanya bengong melihat kengototanku. “Baiklah, kalo itu keinginan mama. Tapi kita voting dulu” jawab suamiku yang akhirnya menyerah dengan keinginanku.
“ Kalo aku, terserah mama aja deh yang penting mama suka” kata Azka, putri sulungku, mengawali acara voting keluarga kami.
 “

Jumat, 27 Januari 2012

I'm Mother of Two Kids 'n I'm Proud It

Hati seorang ibu terdiri dari serpihan-serpihan cinta…. quote yang terasa “dalam”……..Kalimat yang akhirnya  bisa kutemukan dan rasakan dalam 12 tahun perjalananku bersama titipan Ilahi.  Setiap hari aku belajar, belajar mendengarkan anakku, belajar memahami anakku, belajar untuk masuk dalam dunia pikiran anakku. Disinilah kutemukan bahwa  cinta seorang ibu tak akan pernah pudar, hamparan sajadah tak akan pernah mengering oleh airmata seorang ibu di sujud malamnya.

Menjadi seorang ibu, membuat hidupku berwarna. Kuakui, saat lelah menerpa, emosi yang aku hidangkan pada anakku. Walaupun setelah itu, kata ‘maaf” meluncur dari mulutku untuknya. Aku merasa semakin hari rasa cinta dan sayang pada kedua buah hatiku semakin besar.

Saat mereka dalam kandungan, aku belajar menjadi seorang “dokter kandungan”. Belajar  tentang perkembangan janin, tentang stimulus yang harus diberikan pada janin. Ketika anakku lahir, aku pun berubah. Aku belajar menjadi “ahli anak-anak”. Aku pelajari detail masa perkembangan mereka. Mulai dari kesehatannya, perkembangannya hingga menstimulus otak kanan dan kirinya.

Kini, saat si sulung beranjak remaja, aku mulai belajar menjadi “ahli remaja”. Aku belajar memasuki dunianya. Kadang aku tak percaya, rasanya baru kemarin aku menimangnya, meninabobokannya tapi kini…dia telah tumbuh menjadi gadis kecilku.

Rupanya, belajarku belum tuntas. Aku harus belajar bab awal lagi karena si bungsu berbeda dengan kakaknya. Sebagai anak yang lahir hampir mirip dengan yang aku “pesan” pada Allah saat aku hamil.  Aku mulai mereview pola didikanku. Karena tiap anak dilahirkan berbeda.

Aku hanya berdoa, semoga Allah memberiku kesehatan agar aku mampu menjalankan amanahNya hingga akhir tugasku menghantarkan mereka menjadi manusia yang bermanfaat. Dan aku berdoa semoga Allah menghindarkanku dari rasa kelelahan seorang ibu, yang sebenarnya manusiawi. Namun hari ini, aku belajar bahwa menjadi ibu yang ingin sempurna justru menjadikanku lelah. Dan aku berusaha tidak egois saat kelelahan menghampiriku.. Aku berusaha menyikapi agar kegagalan dan kelelahan itu tidak mempengaruhi tanggung jawabku yang tak kenal istirahat itu. Dan yang terpenting aku menikmati peranku. Jika aku menikmatinya, anak-anakku akan bahagia. Aku bangga, menjadi seorang ibu…

Kamis, 26 Januari 2012

HATI SEORANG IBU TERDIRI DARI SERPIHAN-SERPIHAN CINTA



Saat itu di rumah, tinggallah kami berdua. Aku dan Dita, si bungsu berusia 8 tahun. Suamiku masih di kantor dan, Safa, anakku yang sulung, belum pulang sekolah. Tiba-tiba Dita datang padaku sambil menyerahkan selembar kertas. “ Ini catatan buat mama” katanya. Aku mengernyitkan dahi ketika membacanya. Tertulis begini,..
HUTANG MAMA PADA DITA:
1.    Untuk mengerjakan PR hari ini                                  Rp. 2000
2.    Untuk belajar dan menyiapkan buku hari ini               Rp. 3000
3.    Untuk membantu mama menyiapkan piring                Rp. 1000
4.    Untuk membantu mama, ke toko depan rumah          Rp. 1000
Total HUTANG MAMA                                                  Rp. 7000

Aku tersenyum. Si kecilku ini memang agak berbada dengan kakaknya yang cenderung kalem. Dita lebih ekspresif. Dia terlahir sebagai anak yang hampir sesuai dengan  “pesananku” pada Allah. Tanpa banyak bicara, aku ambil pulpen, dan aku tulis di belakang kertasnya.

1.    Untuk rasa sakit mama saat melahirkanmu        GRATIS
2.    Untuk kesedihan mama saat kamu sakit            GRATIS
3.    Untuk airmata mama saat melihatmu bersedih    GRATIS
TOTAL: Semua kasih,sayang dan doa mama, GRATIS untukmu…anakku…..

Dita menatapku. Matanya yang bulat berkedip-kedip dengan lucunya, lalu ia memelukku, sambil berucap, “Aku juga sayang mama”…Hatiku terasa sejuk. Jauh di lubuk hatiku berkata,”Sesungguhnya, melihatmu sehat dan tertawa adalah kebahagiaan tak ternilai yang wajib mama syukuri, anakku…”

Selasa, 24 Januari 2012

BERBURU SEKOLAH BERLABEL INTERNASIONAL

BERBURU SEKOLAH BERLABEL INTERNASIONAL
Menjelang pelaksanaan Penerimaan Siswa Baru (PSB) adalah saat yang melelahkan bagi orang tua. Yang lebih menarik, laporan tentang perburuan orang tua murid terhadap sekolah favorit yang diklaim sebagai Sekolah Bertaraf Internasional. Dengan menawarkan fasilitas yang dimiliki bahkan embel-embel sekolah yang menyelenggarakan pendidikan internasional atau tepatnya pendidikan nasional bertaraf internasional sebagai nilai plus-nya, banyak sekolah swasta maupun sekolah negeri berlomba menarik minat calon siswa baru.

Di mulai dari Jakarta yang pelopori oleh Pelita Harapan yang berdiri tahun 1980-an, bermunculan pula sekolah-sekolah internasional di Jakarta. Sebut saja Bina Nusantara, Pelita Harapan, Global Pondok Indah, Saint Peter dan lain sebagainya. Sekolah-sekolah itu menawarkan fasilitas yang jauh lebih lengkap daripada sekolah-sekolah reguler yang telah ada.Kurikulum yang dipakai di sekolah-sekolah internasional ini tetap kurikulum nasional yang ditambah dengan kurikulum yang berasal dari sekolah-sekolah luar negeri, seperti Cambridge University, Inggris. Buku-buku yang dipakai berbahasa Inggris dan tidak meninggalkan buku-buku paket berbahasa Indonesia. Bahasa pengantar yang dipakai bahasa Inggris. Hal ini memang sedikit berbeda dengan sekolah internasional seperti Jakarta Internasional School (JIS), yang tidak menggunakan kurikulum nasional sehingga tidak memberlakukan UN untuk siswanya. Hal ini dimaklumi karena para siswanya mayoritas kaum ekspatriat.

Guru-guru sekolah internasional di Jakarta benar-benar dipersiapkan sebagai guru profesional dengan imbalan menggiurkan. Ada sekolah internasional yang mempersiapkan guru-gurunya dengan mengirim ke luar negeri sebelum mulai mengajar disekolahnya. Setelah guru direkrut,dikirim ke negara asal afiliasi sekolah. Dengan demikian mereka benar-benar memahami dan mengalami proses belajar mengajar di negara asal afiliasi sehingga dapat menerapkan pola mengajar di Indonesia. Terlebih lagi speaking english guru-guru tersebut benar-benar bagus, maklum, bahasa Inggris adalah bahasa pengantar yang mereka gunakan.

Jumlah jam mengajar setiap guru internasional tersebut rata-rata maksimal 12 jam mengajar setiap minggunya. Jumlah siswa yang diajar 20 orang. Bahkan jumlah itu bisa lebih kecil lagi saat penjurusan. Di SMA Bina Nusantara sekitar 10 orang tiap kelasnya. Di dalam mengerjakan tugas dan mencatat para siswa menggunakan laptop. Kegiatan belajar mengajar berlangsung selama lima hari seminggu, Senin sampai Jum’at. Sabtu dan Minggu libur. Hal ini juga berlaku untuk tingkat Elementary School(Sekolah Dasar), dimana tiap guru mengajar sesuai dengan spesifikasi dan latar belakang keilmuannya. Sistem E-Learning diberlakukan sejak di Elementary School. Sehingga guru maupun orang tua dapat memantau tugas yang diberikan pada siswa melalui komputer yang terhubung

Bagaimana dengan uang sekolahnya? Dengan kisaran puluhan juta rupiah adalah harga yang relatif dianggap pantas dengan fasilitas yang diberikan pada siswa. Lain Jakarta, lain pula di daerah(luar Jakarta). Entah karena berburu gengsi atau untuk alasan bisnis, banyak sekolah yang ikutan mengklaim sebagai sekolah internasional.

Sekolah-sekolah yang berbau internasional di daerah, tidak diberi label sekolah internasional tetapi sekolah nasional bertaraf internasional. Entah mengapa tidak diberi label sekolah internasional sekalian. Istilah itupun sebenarnya kurang tepat karena bukan sekolahnya yang diprogram mengarah ke internasional tetapi hanya sebagian kelasnya saja. Memang hanya ada sekolah yang bertahap mengarah ke sekolah nasional bertaraf internasional. Misalnya, tahun pertama kelas satu semua yang dikelola secara sekolah nasional bertaraf internasional, tahun kedua, kelas satu dan kelas dua, tahun ketiga seluruhnya.

Kalau di Jakarta inisiatif penyelenggaraan sekolah internasional dilakukan oleh pihak sekolah. Segala sesuatunya dipersiapkan sejak awal. Bahkan banyak yang menyelenggarakan sekolah internasional dari playgroup hingga perguruan tinggi, sehingga wajar bila manajemen pendidikannya menjadi sangat bagus. Tetapi di daerah, inisiatif dan penyelenggaraan dimulai dari sekolah-sekolah negeri yang sudah berdiri. Sehingga mulai dari tahap persiapan guru yang mengharuskan penguasaan bahasa inggris yang baik sebagai bahasa pengantar, mulai kedodoran. Belum lagi buku teks berbahasa Inggris yang digunakan siswa. Siswa dituntut dua kali kerja keras, yaitu mengerti terjemahan bukunya dan menguasai konsep di dalam buku tersebut.

KESENJANGAN SOSIAL

Pertanyaannya, sejauh mana sekolah nasional bertaraf internasional yang dimaksud dan bisa terwujud? Dapat kita duga, kalau dalam satu sekolah terdapat kelas internasional dan kelas reguler pasti akan muncul kesenjangan sosial, akan muncul diskriminasi baik di pihak guru maupun murid. Fee bagi guru-guru yang mengajar di kelas internasional lebih tinggi daripada guru-guru yang mengajar kelas reguler. Memang fasilitas yang dimiliki tidak selengkap dan sehebat sekolah internasional yang ada di Jakarta, tetapi sudah cukup memicu terjadinya kesenjangan sosial.

Uang sekolah siswa kelas internasional tentu juga lebih tinggi daripada kelas reguler sehingga tak ada tempat untuk si miskin, apalagi tingkat kecerdasannya pas-pasan.Sangat disayangkan kalau sekolah internasional alias sekolah plus ini hanya sekedar gagah-gagahan atau latah. Dan, lebih disayangkan lagi apabila label internasional itu hanya dipakai sebagai kedok untuk menaikkan uang sekolah di tengah perekonomian masyarakat yang sedang memprihatinkan ini.Pengawasan dan kebijakan tegas dari Dinas Pendidikan Nasional dalam mengklasifikasikan ekolah dengan berlabel plus atau internasional adalah solusi untuk menghindari konflik yang bisa saja timbul akibat kesenjangan.

Alasan untuk meningkatkan mutu pendidikan memang hal yang patut diacungi jempol selama keberadaannya tidak menimbulkan kesenjangan. Apalagi sekolah negeri adalah sekolah yang masih sepenuhnya bergantung pada subsidi pemerintah yang juga berasal dari pajak yang dibayarkan rakyat. Sekolah negeri adalah ujung tombak pemerataan perolehan pendidikan bagi rakyat sesuai dengan Undang-Undang Dasar 1945 bahwa setiap rakyat Indonesia berhak untuk memperoleh pendidikan. Sah-sah saja sekolah melakukan berbagai terobosan demi mutu pendidikan, tapi layakkah mengklaim sebagai sekolah plus atau sekolah nasional bertaraf internasional jika fasilitas sekolah yang dimiliki dan kompetensi tenaga pendidiknya tidak berbeda dengan sekolah reguler lainnya? Bisa-bisa RSBI berubah menjadi Rintisan Sekolah Bertarif Internasional...