Kamis, 24 November 2011

Sahabat Lama dan Impian Masa Depan

Sahabat Lama dan Impian Masa Depan

Sudah berapa lama kita tidak saling berkirim kabar dengan para sahabat? Entah mereka yang kita kenal sejak sekolah dasar berbingkai kenangan wajah culun? Atau geng masa remaja yang berkembang dengan cerita cinta monyet? Kenangan memang indah ketika menatap setelah peristiwa berlalu. 
 
Maka ketika suatu hari mendengar kabar seorang sahabat lama, ada getar tersendiri. Bagaimana tidak? Ketika usia merambat diatas kepala tiga,terbayang wajah dalam ingatan, seakan memutar kembali file sepenggal episode masa lalu. Wah, kini dia seorang doktor lulusan luar negeri. Tampil penuh percaya diri, memiliki karir dan keluarga yang mapan. Berbeda dengan sosok remaja pemalu berseragam abu-abu dulu.

Sementara saya? Lulusan S-1 yang masih berkutat dengan urusan dapur dan keluarga. Minder? Bukan, tiba-tiba saja saya dihadapkan pada pribadi yang digambarkan sebagai si sukses dengan deretan gelar dan karir cemerlang. Sejenak saya mencoba berempati dengan "gelar" yang menjadi tolok ukur sukses seseorang di masyarakat. "Aku heran, kenapa sih teman-teman yang zaman SMA dan kuliah aktif di organisasi, ketika kerja hanya "mentok" sebatas pekerja atau malah memilih menjadi ibu rumah tangga biasa?" ujarnya pada sebuah percakapan kami. Percakapan itu terjadi ketika kami saling kontak sekaligus "say hallo".
"Hei, jangan pakai kata mentok dan "hanya" dong!" protes saya
"Lha kamu yang sudah capek-capek ambil jurusan Fisika, ilmunya gak terpakai" kejarnya sambil menyimpan senyuman.
"Justru saya merasa proses pendewasaan dan pola berpikir terbentuk dari hasil kuliah, sungguh sehelai daun yang jatuh ke bumi sekalipun tidak akan pernah sia-sia" .Saya masih membela diri. "Bagiku yang penting adalah kita merasa enjoy dan menyenangi apa yang kita kerjakan. Tidak semata mengejar gaji ataupun prestise dimata masyarakat"."Ohh.." "Lah iya dong! Karena saya mencintai keluargaku,masa bodoh dengan keharusan bekerja hanya karena saya sarjana Fisika, Selama saya dan suami masih dalam koridor komitmen yang sama mengapa saya tidak loyal pada pilihan". 

Saya masih mengeluarkan unek-unek atas pertanyaan yang sebetulnya sudah seringkali saya terima.

Huh! Betapa sulitnya membuat orang menghargai dan mengerti bahwa ibu rumahtangga juga sebuah profesi. Karena menurut saya sebuah profesi,maka saya harus sekuat tenaga menjadi profesional.
"Lantas, apa mimpi-mimpimu ke depan untuk aktualisasikan dirimu? Tanya sang Doktor seakan mengalihkan suasana yang mulai memancarkan aura panas. Saya nyaris tersedak. "Apa yang ingin dan belum kamu raih?" lanjutnya mempertegas tanya. "Saya tidak punya mimpi! Ke depan mungkin saya mau buka usaha atau malah berdiam diri di rumah!Entahlah.." Gumam saya sembari mengeja pertanyaan yang mengagetkan saya.


Selama ini saya menjalani hidup dengan mengalir saja. Kemana sang waktu membawa saya, di situlah saya berkiprah. Dan saya merasa Allah memudahkan jalan saya untuk meletakkan pada sisi yang saya sukai. Sisi ibu rumah tangga profesional,yaitu disaat anak-anak saya masih kanak-kanak,sayalah AHLI ANAK. Disaat anak-anak saya remaja, sayalah AHLI REMAJA,. Disaat anak-anak saya dewasa, sayalah AHLI DEWASA. Saya yang harus mengawal perkembangan moral, mental dan pendidikan terbaik untuk anak-anak saya. Itulah cara saya untuk mengaktualkan diri. Karena disitulah saya memasang mimpi dan memelihara ladang ibadah bagi saya.


Dus!!menyadarkan saya akan  sebuah tekad mendasar: "Saya harus tetap belajar dan istiqomah merawat surga kecil saya".
Akhirnya diatas sajadah merah yang terbentang, kubenamkan segala mimpi dan harapan dalam sujud panjang yang tak ingin berakhir. Berharap Khusnul khotimah, doaku..

4 komentar:

  1. mba...ur not 'just' a housewife. ur a GREAT one.
    ilmu yg mba dpt di bangku kuliah...ngga terbuang percuma kok...bisa dinikmati sm safa n dita jg anak2 murid les...
    menurutku, utk bisa slalu ada utk buah hati n suami kita is priceless!!
    life is all about choices, right? we choose to be a housewife because we know that it is the best for us n our loved ones....

    BalasHapus
  2. Saluuuut.....you mother is the best....the physics mah ilmu doang...yang penting anak-anak tercinta (awal hidayat)

    BalasHapus
  3. Terimakasih....bagiku, anakku investasiku...dan rumah tanggaku adalah panggungku..

    BalasHapus